Peran Pemuda dalam Pembangunan di Indonesia
Kaum muda memiliki peran strategis dalam perkembangan ke
Indonesiaan di setiap fase, terutama kepeloporannya dalam menggulirkan perubahan.
Namun demikian, keterlibatan mereka secara aktif dalam mengawal perubahan itu
dianggap masih minim. Untuk itu, dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda
ke-86 yang jatuh hari Selasa 28/10/2014 kemarin, kelompok muda dituntut mampu
menjaga soloditasnya guna teribat aktif dalam pembangunan. Peran penting
generasi muda sebagai penerus bangsa diharapkan menjadi makhluk sosial dan
bermoral dengan kemampuan untuk melakukan suatu perubahan menuju suatu
keberhasilan pembangunan
Pemuda-pemudi generasi sekarang sangat berbeda dengan
generasi terdahulu dari segi pergaulan atau sosialisasi, cara berpikir, dan
cara menyelesaikan masalah. Pemuda-pemuda zaman dahulu lebih berpikir secara
rasional dan jauh ke depan. Dalam arti, mereka tidak asal dalam berpikir maupun
bertindak, tetapi mereka merumuskannya secara matang dan mengkajinya kembali dengan
melihat dampak-dampak yang akan muncul dari berbagai aspek. Pemuda zaman dahulu
juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Contohnya saja, sejarah telah
mencatat kiprah-kiprah pemuda Indonesia dalam memerdekakan Negara ini. Bung
Tomo, Bung Hatta, Ir. Soekarno, Sutan Syahrir, dan lain-lain rela mengorbankan
harta, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk kepentingan bersama, yaitu
kemerdekaan Indonesia.
Sedangkan pemuda zaman sekarang, masih terkesan acuh
terhadap masalah-masalah sosial di lingkungannya. Pemuda-pemuda saat ini telah
terpengaruh dalam hal pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika, kenakalan
remaja, bahkan kemajuan teknologi pun yang seharusnya membuat mereka lebih
terfasilitasi untuk menambah wawasan ataupun bertukar informasi justru malah disalahgunakan.
Tidak jarang kaum-kaum muda saat ini yang menggunakan internet untuk hal-hal
yang tidak sepatutnya dilakukan seorang pemuda, seperti membuka situs-situs
porno dan sebagainya.
Peranan pemuda saat ini dalam sosialisasi bermasyarakat
menurun drastis. Mereka lebih mengutamakan kesenangan untuk dirinya sendiri dan
lebih sering bermain-main dengan kelompoknya. Padahal, dulu biasanya pemuda lah
yang berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan di masyarakat seperti
acara keagamaan, peringatan Hari Kemerdekaan, kerja bakti dan lain-lain.
Seandainya saja pemuda-pemuda zaman dahulu seperti Ir. Soekarno, Bung Hatta,
Bung Tomo dan lain-lain masih hidup pasti mereka sedih melihat pemuda-pemuda
sekarang ini yang lebih mementingkan kesenangan pribadi. Generasi yang menjadi
harapan mereka melanjutkan perjuangan mereka, tidak punya lagi semangat
nasionalisme.
Masa depan bangsa ada di tangan pemuda. Ungkapan ini
memiliki semangat konstruktif bagi pembangunan dan perubahan. Pemuda tidak
selalu identik dengan kekerasan dan anarkisme tetapi daya pikir revolusionernya
yang menjadi kekuatan utama. Sebab, dalam mengubah tatanan lama budaya bangsa
dibutuhkan pola pikir terbaru, muda dan segar.
Perkembangan pemikiran pemuda Indonesia mulai terekam
jejaknya sejak tahun 1908 dan berlangsung hingga sekarang. Periodisasinya
dibagi menjadi 6 (enam) periode mulai dari periode Kebangkitan Nasional 1908,
Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, Aksi Tritura 1966, periode 1967-1998 (Orde
Baru).
Periode awal yaitu Kebangkitan Nasional tahun 1908,
ditandai dengan berdirinya Budi Utomo yang merupakan organisasi priyayi Jawa
pada 20 mei 1908. Pada periode ini, pemuda Indonesia mulai mengadopsi
pemikiran-pemikiran Barat yang sedang booming pada saat itu.
Pemikiran-pemikiran tersebut antara lain adalah Sosialisme, Marxisme,
Liberalisme, dll. Pengaruh pemikiran ini terhadap pemikiran pemuda saat itu
tergambar jelas pada ideologi dari sebagian besar organisasi pergerakan yang
mengadopsi pemikiran Barat serta model gerakan yang mereka pakai. Dari beberapa
gerakan yang terekam dalam sejarah Indonesia, salah satu yang paling diminati
adalah model gerakan radikal. Salah satu gerakan radikal yang merupakan
percobaan revolusi pertama di Hindia antara 1925-1926. Selain mengadopsi
pemikiran Barat, para pemuda di masa itu juga menerapkan esensi dari kebudayaan
Jawa, Islam, dan konsep kedaerahan lainnya sebagai pegangan (ideologi).
Periode berikutnya, Sumpah Pemuda 1928, ditandai dengan
Kongres Pemuda pada bulan Oktober 1928. Peristiwa ini merupakan pernyataan
pengakuan atas 3 hal yaitu, satu tanah air; Indonesia, satu bangsa; Indonesia,
dan satu bahasa; Indonesia. Dari peristiwa ini dapat kita gambarkan bahwa
pemikiran pemuda Indonesia pada masa ini mencerminkan keyakinan di dalam diri
mereka bahwa mereka adalah orang Indonesia dan semangat perjuangan mereka
dilandasi oleh semangat persatuan.
Dengan melihat perkembangan pemikiran pemuda dari tahun
1908-1998, kita dapat merefleksi sekaligus bercermin dari semangat perubahan
yang mereka lakukan. Semangat pembaruan yang lahir dari pemikiran mereka
merupakan buah dari kerja keras dan disiplin. Sebagai penerus tongkat estafet
perjuangan yang menjadi simbol kemajuan suatu bangsa, kita wajib meneladani
semangat dan idealisme mereka agar kelak lahir Soekarno-Soekarno baru, Soe Hok
Gie-Soe Hok Gie baru, serta pemikir-pemikir baru yang memiliki pola pikir baru,
kreatif dan segar.
Masyarakat masih membutuhkan pemuda-pemudi yang memiliki
kematangan intelektual, kreatif, percaya diri, inovatif, memiliki kesetiakawanan
sosial dan semangat nasionalisme yang tinggi dalam pembangunan nasional. Pemuda
diharapkan mampu bertanggung jawab dalam membina kesatuan dan persatuan NKRI,
serta mengamalkan nilai-nilai yang ada di dalam pancasila agar terciptanya
kedamaian, kesejahteraan umum, serta kerukunan antar bangsa. Bangun
pemuda-pemudi Indonesia. Tanamkan semangat yang berkobar di dadamu. Bersatulah
membangun Negara tercinta. Seperti isi sumpah pemuda yang di ikrarkan pada
tanggal 28 Oktober 1928 “satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa”.
Semoga Negara kita ini tetap bersatu seperti slogan budaya bangsa yang
tercermin dalam Bhineka Tunggal Ika. Berkarya lah pemuda-pemudi Indonesia,
Majukan Negara Kita, Jadilah Soekarno dan Moh Hatta berikutnya yang memiliki
semangat juang tinggi dalam membangun bangsa.
Sumber :
Sumber :
0 komentar:
Post a Comment